SARJANA MUDA versi gue


Selamat datang hai 2015.

Awal tahun, sudah ada embel-embel gelar di belakang namaku.  Ya, semacam aku sudah sarjana. Sarjana Muda. Muda bisa dibilang karna aku benar-benar baru saja Sarjana atau  karna aku pun memang masih tergolong muda.

Sarjana Muda Versi Gue ini jadi judul tulisan yang direquest  oleh sesorang. And I made it (for you).

Oke. Studi yang aku tempuh tidak cepat namun juga tidak lama.  Pas-pas saja.  4 tahun 1 bulan aku menjadi seorang Sarjana Muda.  Bagiku ini kebanggaan tersendiri, meski setelah itu harus kujawab seluruh pertanyaan yang menghujam, baik dari berbagai pihak maupun diriku sendiri.                                                      Setelah ini, lalu apa?

Bagi sebagain Sarjana Muda (lainnya), pastilah bersiap untuk  membidik sekian banyak pekerjaan dengan berbagai tipe lapangan pekerjaan.                              Menyesuaikan dengan kehidupannya, gajinya,  suasananya, orang-orangnya,  biaya hidupnya,  dan restu orang tuanya.  Tapi, bagiku sendiri, aku memutuskan untuk belajar lagi.  Sebagian orang berpikir bahwa, melanjutkan studi merupakan  bentuk pelarian atas ketidakberhasilan seorang Sarjana Muda di  dunia persaingan untuk memperoleh lapangan pekerjaan yang  sesuai. Tapi tidak seperti itu bagiku. Adanya panggilan untuk  beberapa test dan interview oleh sebuah perusahaan besar tidak  menyulutkan langkahku untuk tetap memilih melanjutkan studi.  Beberapa orang juga berpikir bahwa melanjutkan studi adalah alibi atas  ke-kurangmaksimal-an bekal yang dimiliki oleh seorang Sarjana Muda  untuk bersaing di dunia pekerjaan.

Memutuskan untuk melanjutkan studi tidak semudah itu.  Bayangkan saja, teman-teman seletingan sudah berada pada dunia gaji-menggaji,  sedangkan kita masih belajar. Mereka sudah dapat menyisihkan  sedikit penghasilan untuk orang-orang yang dikasihi,  sedangkan kita masih meminta. Mereka sudah bisa fokus untuk  masa depan yang lebih maju alias married, sedangkan kita masih  sibuk berupaya untuk segera lulus.  Sekali lagi, melanjutkan studi tidak semudah itu.

Aku memutuskan untuk di sini lagi. Di Yogya lagi. Di UGM lagi.

Aku cukup percaya diri untuk melanjutkan studiku di sini.  Meski beberapa dari temanku bahkan sudah terbang ke berbagai  belahan benua untuk melanjutkan studi mereka.   Dimanapun kita berada dan akan berada itu bukan (hanya) takdir. Itu adalah niat dan upaya.                            Jadi, dimanapun itu tidak masalah, tapi apa niatmu,  itu masalahnya : ))

Jadi, akhir kata, jalanilah apa yang diyakini. Entah langsung dengan  segera bersaing untuk mendapatkan gaji atau untuk belajar lagi.

Entah akan bekerja atau menjadi Ibu Rumah Tangga,  seorang wanita haruslah berpendidikan tinggi. Karena, seorang  anak yang cerdas, dilahirkan dari seorang Ibu yang cerdas -Dian Sastrowardoyo

 

Iklan

Dua Puluh Dua


Bertambah satu taun jadi dua puluh dua. Angka yang semakin banyak jumlahnya…
Hanya syukur yang bisa teruntai..
Di tengah pengalaman hidup, saat terjatuh dan mencoba bangkit, tidak dapat ku lihat orang2 hebat di sekitarku, aku hanya terfokus pada mereka2 yang menyita pikiranku dan menguras hatiku sampai habis. Hihihii bodoh, pikirku.
Di tutup hari yang membuatku berumur dua puluh dua ini baru aku rasakan, ternyata aku bahagia. Sangat bahagia. Tidak kusadari begitu banyak kasih di sekelilingku. Begitu banyak ketulusan tercipta untukku. Begitu banyak kebaikan yang Tuhan sediakan untukku.
Aaaaahhhhhhhh…
Berita duka hadir saat sosok sahabat kehilangan Ayahandanya..
Terlintas keheranan dalam benakku, mengapa Tuhan, disaat umurku bertambah ada banyak orang di sana yang Kau panggil menghadapMu, mengapa Tuhan, disaat aku masih bisa bernapas merayakan hari jadiku ada banyak orang yang berharap untuk masih bisa bernapas lebih lama…
Tuhan, terimakasih.
Aku masih hidup.
Aku masih bernapas.
Aku masih merasakan kasihMu.
Aku masih boleh memiliki kesempatan untuk menjadi sosok yang berpengaruh bagi dunia.

Bapak Gede dan Ibu Ani, Mbok Putu Dean Melati, Bli Gede Nata Wibawa, Bli Gede Dean Dewangga.. Look! I’am already become a woman!
Komang Dean Ananda. Dua puluh dua tahun!

Believe, Go, and Reach It!
DeanA.

Pada Akhirnya..


Halloo dunia..
Taukah kamu..
Saya sudah sangat terbiasa hidup dalam sebuah perbedaan.
Saya pun jelas sudah sangat sangat terbiasa juga hidup dalam ketoleransian.
Saya paham perbedaan dan paham toleransi.
Mungkin yang ditemui berbeda dan tidak sama.
Mungkin selama ini saya bukan pelaku, saya hanya bagian dari yang terkena dampaknya.
Tapi mau tidak mau saya pasti paham dan pasti mengerti.
Karena saya terlibat!
Karena saya menyaksikan!
Tetapi mengapa sekarang ketika saya yang menjadi pelaku, saya pun tidak berdaya?
Kenapa menjadi lemah dan tidak kuat?
Mengapa pengalaman yang ada tidak menjadikan saya menang?
Mengapa??
Dan pada akhirnya, saya memang harus menyerah pada perbedaan..
Mau tidak mau..

SELAMAT ULANG TAHUN, MAMA :’)


Ibu Ani.

Nama lengkapnya Dra. Maria Rita Ani Susilowatiningsih, M.Sc.

Sosok yang membawaku di dalam rahimnya selama kurang lebih sembilan bulan lamanya, dan menghadirkanku ke dunia di tanggal 1 Mei 1992 dengan segenap perjuangan, keringat dan air mata karena mempertaruhkan nyawanya.

Sosok yang dengan gigih membesarkan ketiga anaknya yang bandelnya luar biasa.

Sosok yang sering kewalahan mendampingi anak-anaknya dengan masa kecil yang aktif dan nggak bisa diem.

Sosok pekerja keras dan tidak pernah mengeluh.

Sosok yang pantas untuk diperjuangkan.

Sosok yang beruntung karena telah diperjuangkan.

Sosok yang tidak pernah menyerah menjadikan murid-muridnya cerdas.

Sosok yang berani mengambil resiko dan memperjuangkan apa yang dia yakini.

Sosok yang galak pada saat dan kondisi yang tepat.

Sosok yang lembut pada saat yang memang membutuhkan kelembutannya.

Sosok yang paling sering berbeda pendapat denganku.

Sosok yang paling sering kuajak untuk berdebat.

Sosok yang paling sering aku “eyel”in

Sosok yang paling sering kuajak bernegosiasi.

Sosok yang paling sering ku buat ia menggeleng-gelengkan kepalanya karenaku.

Tetapi, menjadi sosok yang paling kucintai, yang selalu mendukungku di dalam lubuk hatinya, yang selalu yakin dan percaya bahwa aku mampu, dan yang selalu membawa namaku di dalam setiap doanya.

Di tanggal ini, umurnya bertambah.

53 tahun umur Mama.

Sudah setengah abad lebih ia berjuang dan masih akan terus berjuang dalam hidupnya.

Mama…

Tidak terasa umurmu semakin lanjut, dan engkau masih berjuang untuk kita semua..

Mama…

Semoga segala harapanmu terhadap anak-anakmu dapat segera terwujud..

Mama…

Sehatlah selalu dan panjanglah umurmu Mama, sasksikan keberhasilan dan kesuksesan anak-anakmu..

Mama…

Semoga bahagiaku adalah bahagiamu dan bahagiamu adalah bahagiaku..

Mama…

Semoga aku benar2 tau apa yang membuatmu bahagia dan benar2 bisa membahagiakanmu..

Selamat ulang tahun, Mama.

Tetaplah menjadi wanita nomer satu dalam hidupku.

Semoga aku bisa menjadi sedikit lebih darimu.

Tuhan senantiasa memberkati dan menjagamu dimanapun engkau berada.

 

Believe, Go, and Reach It!

 DeanA.

SELAMAT ULANG TAHUN, BOU :’)


Sosok wanita ini memang belum pernah kutemui.

Tetapi aku bisa memastikan,

bahwa aku cukup mengetahui tentangnya.

Mungkin tidak banyak. Tidak semua. Tetapi cukup.

Cukup membuatku menilainya sebagai

sosok wanita yang tangguh.

Cukup membuatku menilainya sebagai sosok wanita

yang murah dan rendah hati.

Cukup membuatku menjadikannya sumber inspirasi.

Cukup membuatku menyatakan bahwa ia adalah sosok wanita yang beruntung.

 

Di tanggal ini, umurnya bertambah.

Ya. Bertambah satu tahun.

Entah yang ke berapa, aku tidak tau pastinya.

Yang ku tau hanyalah ia sembilan tahun lebih muda

dari seseorang yang juga beruntung karena telah

menahannya di sampingnya, dan membiarkan

sosok wanita ini mendampingi hidupnya.

 

Sejujurnya tidak banyak yang bisa aku sampaikan.

Aku hanya mengharapkan ia selalu sehat dan baik-baik saja.

Berharap Tuhan mudahkan segala apa yang ia kerjakan.

Berharap Tuhan memberikannya rejeki,

dalam bentuk apapun itu.

Berharap Tuhan selalu mendengarkannya

dan mengabulkan segala doanya.

Berharap Tuhan memberikannya kebahagiaan.

Berharap ia semakin dicintai oleh anak-anaknya yang luar biasa.

Berharap Tuhan berikan umur panjang

agar ia dapat menyaksikan anak-anaknya berhasil dan menjadi seperti apa yang ia inginkan.

Berharap Tuhan berikan berkat melimpah

dan menjadikannya berkat.

 

Selamat ulang tahun, Bou….

Semoga aku bisa dicintai oleh anak-anakku kelak, seperti anak-anakmu begitu mencintaimu.

Tuhan senantiasi memberkati dan menjagamu

dimanapun engkau berada.

Salam….

Believe, Go, and Reach It!

DeanA.

Bertanya


Tujuan hidup adalah bahagia dan membahagiakan. Entah sepakat ataupun tidak.
Sebenernya tujuan hidup ada banyak, secara fisik, banyak impian-impian yang ingin dicapai, tertera secara nyata di sepanjang jalan kehidupan.
Tapi secara tersirat, batin adalah prioritas utama yang harus dipenuhi sebagai sumber kekuatan dan keyakinan dalam melangkah. Entah sepakat ataupun tidak.

Sejujurnya rada nggak paham sama tema post-an kali ini. Abstrak. Hanya ingin menulis. Hanya ingin mengisi. Hanya ingin menuangkan sedikit pertanyaan.

Oke. Apa makna bahagia? Apa makna membahagiakan?
Apa dengan bahagia kita bisa membahagiakan?
Apa dengan membahagiakan kita akan bahagia?
Apakah ada bahagia yang tidak membahagiakan?
Dan sebaliknya, apakah ada kita membahagiakan tapi sebenernya kita nggak bahagia?

Apakah sabar bisa membuat kita bahagia atau nantinya akan bahagia?
Apakah berkorban bisa membuat kita bahagia atau nantinya akan bahagia?
Apakah dengan merelakan bisa membuat kita bahagia atau nantinya akan bahagia?
Lalu… Apa kabar dengan berjuang? Apakah berjuang juga bisa membuat kita bahagia atau nantinya akan bahagia?

Nah. Ini. Bingung. Semuanya bisa aja. Karena takdir bukan kita yang atur. Dan kita nggak tau apa yang akan terjadi. Dan itu dia masalahnya. Tapi masalahnya lagi, hidup bukan gambling kan. Hidup harus ditata kan. Hidup harus dirancang kan. Terus gimana?  

Kesimpulannya, mungkin tetap berpegang pada apa yang diyakini. Dengan bahasa lain, ikuti kata hati. Tapi kemudian timbul pertanyaan, apa kabar dengan otak? Jika hati dan otak bertentangan bagaimana? Hati dengan perasaannya dan otak dengan pikirannya.

Ketika hati yakin akan bahagia kelak, tapi otak berhasil menganalisis dan memastikan tidak akan ada kebahagiaan, lalu bagaimana? Rada ngeri kan ya. Tapi sekali lagi, hidup ini bukan gambling kan ya. Terus gimana?

Yang jadi pertanyaan lagi, pilihan. Hidup itu pilihan. Entah sepakat atau tidak.
Apakah tujuan dari sebuah pilihan?
Mencapai sesuatu yang terbaik? Atau mencapai kebahagiaan? Apakah yang terbaik pasti bahagia? Apakah yang bahagia pasti yang terbaik? Atau kedua pernyataan itu punya nilai yang sama? Atau justru salah satunya memiliki nilai yang lebih tinggi atau lebih rendah?

Ketika bertanya sendiri dan berusaha untuk menjawabnya sendiri, tidak akan menemukan jawabannya.

Tetapi yang pasti, bahagia saja tidak cukup, membahagiakan saja juga tidak cukup. Harus mencapai keduanya. Bahagia dan membahagiakan. Entah harus sabar, berkorban, merelakan, berjuang ataupun menghadapi sebuah pilihan, yang jelas, tetep harus mencapai keduanya; Bahagia dan Membahagiakan.

                                                                                          Believe, Go, and Reach It!
                                                                                                                             DeanA.

When a Girl Becomes a Woman


Kali ini tentang anak perempuan yang akan menjadi seorang wanita.

Sewaktu menempuh pendidikan dasar, sama seperti anak-anak pada umumnya, belajar, bermain dan beraktivitas sesuai dengan masa pertumbuhannya. Kemudian, akan menjadi berbeda ketika ia memasuki studi di perguruan tinggi, lalu menentukan jurusan apa yang akan didalami, serta kelanjutan pekerjaan yang ingin ia capai.

Disiplin ilmu yang kita tekuni tentu nantinya akan berperan besar dalam menentukan pekerjaan yang ingin kita capai. Seorang perempuan yang akan menjadi wanita, (mungkin) menginginkan pekerjaan yang berada pada zona nyaman dengan resiko pekerjaan yang minim tentunya. Bahasan ini memang bagi para wanita yang memutuskan akan berkarir. Namun tetap saja, ia tidak lupa akan kodratnya sebagai wanita yang nantinya akan mengurus suami dan anak-anaknya.

 

Menjadi seorang wanita tidaklah mudah. Jadi, hargailah wanita. Tanpa seorang wanita, siapapun tidak akan terlahir ke dunia. Ya. Menjadi dilema, ketika seorang wanita ingin berpendidikan tinggi, memiliki karir dengan jam terbang tiada henti, dan menjadi pemimpin bagi banyak orang. Karena ia tidak boleh lupa akan kodratnya. Yakin bahwa sebagian besar wanita pasti ingin berumah tangga dan memiliki keturunan, namun tetap berkarir.

Seorang anak perempuan akan lebih banyak melihat sisi positif mamanya untuk meneruskan hidupnya kelak, dan melihat sisi positif sang papa untuk mencari pasangan hidup yang akan memimpinya kelak. Ya. Mungkin sebagian besar seperti itu.

 

Ketika aku berada pada umur yang ada padaku sekarang ini, aku sudah mulai merasakan bahwa banyak yang harus ku rancang dari sekarang. Banyak. Khususnya soal karir dan pasangan hidup. Merancang, bukan menarget.

 

Mama adalah wanita yang hebat. Banyak hal darinya yang menjadi sumber inspirasiku. Banyak hal darinya yang kukagumi. Banyak hal darinya yang mungkin aku tidak yakin akan mampu melakukan seperti yang mampu ia kerjakan. Mama dengan pendidikannya yang cukup tinggi, dengan pekerjaannya yang seabrek, dengan tanggungannya yang bejibun, dengan ia harus mengurusi pekerjaan rumah, memasak, mengurus suami yang tangguh, dan mengurus anak-anaknya yang agak bandel-bandel ini. Ia tetap harus bekerja, mengabdi dan untuk menjaga perekonomian keluarga agar tetap stabil.

Mama begitu luar biasa.

Dan aku hanya ingin menjadi (sedikit) lebih hebat darinya. Hanya itu J

 

Oke. Soal pasangan hidup.

Ya ini sebenernya rada-rada bebas lah ya. Relatif. Khususnya ketika melihat lawan jenisnya itu secara fisik.

Semua anak perempuan yang nantinya akan menjadi seorang wanita pasti memiliki perhitungannya sendiri dalam menentukan pasangan hidupnya. Mungkin sebagian besar wanita akan melihat sisi positif dari papanya dan saudara laki-lakinya sebagai patokan melihat nilai lebih dari pria-pria yang dikaguminya.

Ya, banyak perlakuan yang diberikan pria terdekat kita (keluarga) yang membuat kita akhirnya memutuskan mencari yang serupa atau lebih baik. Tidak dipungkiri.

 

Sumber inspirasi. Sosok pria yang membuat (beberapa) wanita merasa nyaman adalah pria-pria yang menginspirasi, bukan pria yang menuruti segala kemauan mereka dan selalu mengatakan “ya”. Pria yang tegas dan mampu mendidik akan membentuk pribadi wanita yang dipimpinnya menjadi lebih baik, penuh kasih dan mandiri.

Apa adanya. Kata mama sih gitu, menjadi sosok pria yang apa adanya dan tidak dibuat-buat. Tidak berusaha menjadi seperti apa yang kita sukai atau berusaha menyukai apa yang kita sukai.

Penghasilan. Wanita yang memperhitungkan laki-laki dengan penghasilannya tidak semua dikarenakan sifat matrelialistik. Sekali lagi, seorang wanita akan menyerahkan hidupnya sepenuhnya kepada pria yang nanti akan memimpinnya. Tapi sebenarnya yang lebih tepat adalah, “cara” bagaimana seorang pria mampu mencapai penghasilannya. Sebuah penghasilan tidak akan selamanya stabil. Ketika berada pada kondisi buruk, ia harus mampu mengatasi itu. Jadi, penghasilan mungkin bukanlah yang penting, tapi bagaimana cara ia mencapai penghasilannya. Dan cara itu seharusnya berisikan visi, tanggung jawab, dan kerja keras.

 

Oke. Sekali lagi. Ketika aku berada pada umur yang ada padaku sekarang ini, aku sudah mulai merasakan bahwa banyak yang harus ku rancang dari sekarang. Banyak. Khususnya soal karir dan pasangan hidup.

 

Papa adalah pria yang super tangguh dan luar biasa. Ia adalah pekerja keras yang selalu berusaha untuk tetap membawa keluarganya berada pada taraf hidup yang layak. Ia mengupayakan segalanya untuk kesejahteraan keluarga. Itu yang kurasakan. Dia selalu menjadi pelindung yang hebat bagi istri dan anak-anaknya yang sangat ia cintai. Ia tidak pernah mengeluh. Ia mendidik istri dan anak-anaknya menjadi sosok yang mandiri, mampu bertahan dalam keadaan apapun, kuat, dan penuh kasih.

Dengan pekerjaan yang juga bejibun, jarak dari rumah menuju kantornya yang cukup memakan waktu, lalu lintas yang lebih sering tidak lancar, cuaca yang tidak tentu tidak pernah membuat ia menyerah mengingat wajah istri dan anak-anaknya yang selalu ada dibenaknya setiap detik. Ia hanya ingin memberikan kesejahteraan dan kebahagiaan.

 

Ketika aku ingin menjadi (sedikit) lebih hebat dari mama, berbeda dengan papa, aku tidak mencari pasangan hidup yang lebih baik darinya. Karena aku yakin papa adalah yang terbaik. Sosok yang tepat adalah dia yang Papa yakini untuk mampu memimpin anak perempuannya kelak, dia yang Papa percayakan menjaga anak perempuannya yang selalu dijaganya.

 

Bagaimana papa terhadap anak perempuannya ketika sang anak mulai dekat dengan seseorang, lawan jenis tentunya. Rasa khawatir, cemburu, was-was, dan takut jika anak perempuannya tidak mampu dijaga sebaik ia menjaganya, mungkin hal itu dirasakan oleh papa-papa di dunia. Ya. Ketika ia mulai merasa harus memberikan kepercayaan kepada buah hatinya yang mulai beranjak dewasa untuk memilih sosok yang tepat menjadi pendamping hidupnya, saat itulah ia merasa harus menyerahkan tongkat estafetnya dan menjamin tongkat estafet itu jatuh pada orang yang tepat.

 

Terimakasih sudah menjadi sumber inspirasi terbaik Pak Gede dan Bu Ani :”)

Doa yang kalian lantunkan selalu terasa di setiap pagi baru yang Tuhan beri.

 

Believe, Go, and Reach It!

DeanA.